Gelombang Delta Otak (Frekwensi 0,2 – 3 Hz)

Diposting pada 536 views

Gelombang Delta sebagai penyembuhan dan tidur dalam (deep sleep)

    Kondisi delta dengan frekuensi 0,2 – 3 Hz ( namun ada juga yang meneybut 0,5 – 4 Hz dalam teorinya) terjadi pada saat gelombang otak semakin melambat, ini sering dihubungkan dengan kondisi tidur yang sangat dalam/ tidur nyenyak.

    Delta adalah getaran pusat syaraf otak yang memiliki amplitudo cesar dan frekuensi yang rendah. Gelombang delta sering terjadi pada saat seseorang mengalami tidur yang sangat lelap, tanpa mimpi atau anak di bawah usia 13 tahun ketika dalam keadaan sadar penuh.

Gelombang Delta Otak (Frekwensi 0,2 - 3 Hz)

    Orang dalam keadaan koma, gelombang otaknya hanya 0,5 Hz. Artinya, seseorang dikatakan dalam keadaan koma jika gelombang otaknya sekitar 0,5 Hz dan baru dikatakan mati secara klinis jika frekuensi nya mencapai “nol”.

    Fase delta adalah fase istirahat bagi tubuh dan pikiran. Dalam kondisi ini, tubuh seseorang melakukan proses penyembuhan diri, memperbaiki kerusakan jaringan tubuh, dan aktif memproduksi sel-sel baru saat seseorang tertidur lelap.
[post_ads]
    Ketika sedang sakit, keadaan delta harus lebih banyak karena tubuh berusaha menyembuhkan diri. Orang dewasa perlu istirahat 8 jam sehari, namun kita bisa melakukan tidur lebih singkat dalam sehari.

    Sebenarnya , seseorang bisa tidur lebih singkat dalam sehari dengan menempatkan diri pada keadaan alpha atau pun theta.

    Beberapa frekuensi dalam jangkauan delta diiringi oleh pelepasan hormon pertumbuhan manusia (human growth hormone) yang bermanfaat dalam penyembuhan.

    Kondisi delta , jika dihasilkan dalam kondisi terjaga akan menyediakan peluang untuk mengakses aktivitas bawah sadar, mendorong alirannya ke pikiran sadar.

    Kondisi delta juga sering dihubungkan dengan manusia-manusia yang memiliki perasaan kuat terhadap empati dan intuisi.

    Delta adalah gelombang yang paling lambat dari gelombang otak yang lainnya. Ketika gelombang otak seorang dominan dengan gelombang delta, tubuhnya mengalami peneyembuhan sendiri dan reset jam internal.

    Dalam kondisi ini, seseorang tidak mimpi dan sama sekali tidak sadar. Berdasarkan penemuan baru di bidang frekuensi dan gelombang otak manusia yang dilakukan oleh DR. Jeffrey D. Thomson dari Neurocoustic Research, diketahui bahwa di bawah delta masih ada gelombang dan frekuensi lain.

    Gelombang otak dimaksud adalah frekuensi epsilon yang berada di bawah 0,5 Hz. Epsilon juga sangat mempengaruhi aktivitas mental seseorang dalam kemampuan supranatural, seperti pada gelombang theta.

Loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.