Misteri Supersemar, Benarkah Soekarno ditodong pistol Jenderal utusan Soeharto?

Diposting pada 457 views

Misteri Supersemar

Misteri Supersemar ~ Supersemar merupakan sebuah tonggak sejarah awal berdirinya pemerintahan Indonesia yang baru yaitu Orde Baru. Selain itu Supersemar ini menjadi surat penanda akan adanya perubahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto.

Namun dalam praktek ketatanegaraan, supersemar tersebut sangat diragukan dalam legalitas hukumnya. Selain itu banyak sekali kontroversi dari pembuatan supersemar itu sendiri.

Mulai dari siapa yang membuatnya, dimanakah naskah asli dari supersemar sampai kisah misteri dibalik penandatanganan oleh Soekarno di surat tersebut.

Dibalik penandatanganan surat tersebut, ada banyak tokoh-tokoh sejarah yang berpendapat mengenai kisah terbuat-nya surat tersebut.

Misteri Supersemar, Benarkah Soekarno ditodong pistol Jenderal utusan Soeharto
Misteri Supersemar, Benarkah Soekarno ditodong pistol Jenderal utusan Soeharto

Benarkah Soekarno ditodong pistol Jenderal utusan Soeharto?

Pengakuan Sang Pengawal Presiden (Soekardjo Wilardjito)

Dalam buku yang berjudul Mereka Menodong Bung Karno :

Kesaksian Seorang Pengawal Presiden, terbit 2008 Soekardjo Wilardjito seorang anggota resimen Tjakrabirawa yang merupakan salah satu saksi bisu dari peristiwa penandatanganan supersemar tersebut.

Pada saat itu menurut perkataan Soekardjo, bahwa Soekarno didatangi oleh empat Jenderal utusan Soeharto pada pukul 01.00 tanggal 11 Maret 1966. Empat Jenderal tersebut adalah M Paggabean, M Jusuf, Basuki Rachmat dan Amir Mahmud yang membawa map berwarna merah jambu yang isinya adalah supersemar dan meminta Soekarno untuk menandatanganinya.

Beliau mengatakan bahwa pada saat itu salah satu dari empat Jenderal yang diutus oleh Soeharto untuk menghadap ke Soekarno. Yaitu Brigjen Basuki Rachmat menodongkan pistol ke dada Soekarno dengan maksud guna memaksa Soekarno untuk menandatangani surat itu.

Melihat hal itu, Soekardjo marah dan langsung mengeluarkan pistol-nya. Namun Soekarno justru menyuruhnya untuk mengembalikan pistol-nya ke tempat semula lantas Soekarno tetap menandatangani surat tersebut. Setelah surat itu ditandatangani Soekarno, keempat Jenderal tersebut pulang dengan perasaan senang.

Selain itu, menurutnya ada keganjalan yang terjadi pada bagian kop surat yang justru menggunakan kop Markas Besar Angkatan Darat bukan kop surat kepresidenan. Padahal seharusnya dalam hal tersebut surat itu menggunakan kop surat kepresidenan karena berkaitan dengan masalah nasional.

Setelah kepergian keempat Jenderal, menurut Soekardjo ia diperingati oleh Soekarno untuk keluar dari istana dan harus berhati-hati karena akan membahayakan dirinya. Dan benar saja ketika masa Orde Baru, Soekardjo ditangkap dan dipenjara selama 14 tahun tanpa peradilan yang jelas juga menerima siksaan yang berat untuk dipaksa mengaku sebagai anggota PKI.

Versi Lain (Mayor Ali Ebram)

Versi lain datang dari seorang Asisten Intelijen 1 Tjakrabirawa yaitu Mayor Ali Ebram yang menyebutkan bahwa pada saat itu tidak ada peristiwa penodongan oleh Basuki Rachmat kepada Soekarno. Namun menurutnya dalam meminta tanda tangan Soekarno, utusan Soeharto itu tetap mengintimidasi Soekarno untuk menandatangani surat tersebut tanpa basa-basi.

Melihat itu, Ali Ebram yang bertugas sebagai asisten pengawal Soekarno langsung marah dan bereaksi dengan mengeluarkan pistol-nya. Namun Soekarno justru menyuruh dia untuk tidak ikut campur dalam hal ini dan memerintahkan dia untuk keluar dari istana. Mendengar perintah itu, Ali Ebram langsung menuruti apa yang diperintahkan kepadanya.

Kontroversi Kesaksian Soekardjo

Kesaksian Soekardjo diatas telah banyak menuai kontroversi, banyak pihak yang tidak setuju dengan kesaksiannya tapi ada juga yang setuju dan mendukung teori dari Soekardjo.

Adapun pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa ada kejanggalan mengenai waktu datangnya utusan Soeharto ke Istana Bogor pada pukul 01.00.

Lalu adanya peristiwa penodongan pistol ke Soekarno dan kehadiran Brigjen M Panggabean di Istana Bogor. Karena Soekardjo lah orang pertama yang menyebutkan adanya Panggabean dalam pertemuan di Istana Bogor.

Namun ada yang mendukung teori dari Soekardjo. Mereka itu R Soekiram, Rian Ismail, S Ponirah dan Soeprapto Karto Siswoyo.

Akibat dari pengakuan yang kontroversial tersebut Soekardjo akhirnya diproses secara hukum pada tahun 1998 atas dugaan menyebarkan berita bohong.

Namun dalam prosesnya, ia lolos dari hukuman karena tidak ada bukti yang kuat dan tuduhan itu tidak terbukti.

Mayor Ali Ebram yang juga saksi bisu peristiwa tersebut diminta untuk tidak menyebarkan apa saja yang terjadi waktu itu, setelah ia dipenjara selama beberapa tahun di era Orde Baru.

Dari penjelasan diatas, rasanya sangat sulit untuk membongkar kejadian yang sebenarnya terjadi dalam pembentukan Supersemar.

Sekali lagi Supersemar yang dijadikan pedoman Jenderal Soeharto untuk memperbaiki kondisi Indonesia ini sampai sekarang terselimuti dengan penuh misteri dan kontroversi.

Loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.