Sejarah Singkat Mengenai Organisasi Separatis Papua Merdeka (OPM)

Diposting pada 11.498 views

Tentang Organisasi Papua Merdeka

Organisasi Papua Merdeka atau disingkat OPM adalah sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 1965 di Papua.

Tujuan Didirikan Organisasi Papua Merdeka

Tujuan didirikannya organisasi ini ialah untuk menggulingkan pemerintahan Indonesia yang saat ini ada di provinsi Papua dan Papua Barat (dulu Irian Jaya).

Tujuan akhirnya tidak lain adalah untuk memisahkan diri dari Indonesia dan menolak pembangunan dari Indonesia.

OPM menurut Pemerintah Indonesia

Organisasi ini dianggap ilegal oleh pemerintah Indonesia dan disebut sebagai upaya pengkhianatan terhadap NKRI. Sejak berdiri, OPM telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai tujuannya seperti mengibarkan bendera bintang kejora, melakukan negosiasi diplomatik, sampai melakukan invasi militan pada konflik Papua.

Para pendukung dan anggota organisasi ini sering membawa-bawa bendera bintang kejora dan lambang persatuan mereka. Bahkan organisasi ini sudah menyiapkan lagu kebangsaan mereka sendiri yang berjudul “Hai Tanahku Papua”.

Sejarah Organisasi Papua Merdeka

Sejarah Organisasi Papua Merdeka

Saat peran dunia berlangsung, Papua terbagi menjadi dua bagian yakni Nugini Barat (Nugini Belanda) dan Nugini Timur (Nugini Britania). Kedua teritori ini menyatakan penolakannya terhadap penjajahan Jepang dan memilih bersekutu dengan Australia dan Amerika selama perang pasifik.

Meskipun sebelumnya sudah ada perjanjian antara Belanda dan Australia bahwa sebaiknya Nugini Barat dan Nugini Timur sebaiknya bersatu, namun tidak adanya kelanjutan seperti pembangunan membuat dua wilayah ini akhirnya berpisah.

Pendirian Organisasi Papua Merdeka

Akhirnya pada Desember 1963, OPM didirikan oleh para petinggi Papua. Mereka menyerukan bahwa masyarakat Papua menolak pembangunan modern, mereka juga memerintahkan agar para pemerintahan, pemuka agama, dll untuk pergi dari tanah Papua.

Sebagai tindak lanjut dari pendirian OPM, Nugini Belanda mengadakan pemilu pada Januari 1961, dan selanjutnya mengangkat Dewan pada April-nya. Melihat hal ini, Amerika segera bergerak.

Penasihat keamanan Nasional bernama McGeorge Bundy meminta Presiden AS saat itu untuk merundingkan transfer pemerintahan Nugini Barat ke Indonesia. Perjanjian New York pun dibuat dan ditandatangani oleh Indonesia, Belanda, serta PBB pada Agustus 1962.

Deklarasi Republik Papua Barat

Pada tanggal 1 Juli 1971, dua petinggi Papua Barat bernama Roemkorem dan prai mulai mendeklarasikan berdirinya Republik Papua Barat dan mereka juga menyatakan bahwa konstitusi sudah dalam proses perancangan.

Namun dalam perjalanannya kedua tokoh ini berselisih yang mengakibatkan perpecahan pada kubu OPM. OPM pun terbelah dua menjadi PEMKA pimpinan Prai dan TPN pimpinan Roemkorem.

Pada tahun 1976, perusahaan Freeport sering mendapatkan surat ancaman dari organisasi OPM. Awalnya OPM meminta bantuan dan kerja sama dengan pihak Freeport.

Tapi, karena Freeport menolak, OPM mengancam akan merusak perusahaan mereka dengan memotong saluran-saluran penting seperti saluran slurry, listrik, membakar gudang, meledakkan bom, dll.

Dewan Revolusi OPM

Pada 1982, Dewan Revolusi OPM kembali mengupayakan kemerdekaan Papua Barat melalui kampanye diplomasi Internasional. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari organisasi-organisasi dunia seperti GNB, ASEAN, Forum Pasifik Selatan, bahkan PBB.

Pada tahun 1984, OPM mulai menyerang Jayapura yang notabene pusat pemerintahan Indonesia di Papua yang juga banyak terdapat masyarakat Indonesia-nya.

Untungnya serangan ini berhasil dihentikan militer Indonesia. Kegagalan serangan ini membuat eksodus pengungsi Papua ke camp-camp di Papua yang juga dibantu OPM.

Pada Februari di tahun yang sama, PT. Freeport melaporkan kepada pemerintah Indonesia bahwa organisasi OPM kembali aktif di daerah mereka dan diketahui sebagian karyawan Freeport merupakan simpatisan OPM.

Penyerangan ke Freeport

Tanggal 18 Februari 1984 sejumlah orang diduga anggota OPM mulai menyerang Freeport dengan memotong pipa-pipa penting perusahaan itu dengan gergaji, membakar gudang, dll. Polisi dan petugas pabrik yang mencoba mendekat ditembak dengan brutal oleh anggota OPM.

Kegiatan ini kembali dilakukan pada tanggal 14 April. Hal ini memaksa Freeport meminta bantuan kepada militer dan polisi Indonesia.

Terhitung sejak tanggal 24 Oktober 2011, OPM sering melakukan invasi-invasi militer. Mereka sering menembaki polisi-polisi Indonesia di Papua. Ini memaksa Indonesia menurunkan lebih banyak personil di Papua.

Tidak hanya polisi, OPM juga menembak warga sipil bahkan OPM juga pernah menembak pesawat Trigana Air yang sedang landing sehingga pesawat kehilangan kendali dan menabrak sebuah bangunan.

Dan hingga saat ini, walaupun situasi sudah semakin membaik, tetapi di beberapa tempat masih menjadi zona warning pemerintah dan terus dalam pengasawan TNI/POLRI.

Loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.