Sukardi kakek pengrajin kapal Pinisi yang tak kenal menyerah

Diposting pada 112 views
Pertama saya melihat pak Sukardi ini adalah di TV berita dimana di dalam acara berita tersebut beliau menceritakan tentang dirinya yang sudah banyak mengenal beliau dari keuletan dan kerajinan serta beliau yang tidak kenal batas dalam hidupnya, terus berjuang untuk mencari nafkah dari keahlian yang dimiliki beliau. 

Keterbatasan fisik tidak membuat Kakek Sukardi (69) menyerah untuk terus berjuang menyambung hidup. Dengan kursi roda yang digunakan selama 39 tahun, kakek yang akrab disapa Wadi ini berjualan miniatur kapal Pinisi berkeliling di wilayah Koja, Jakarta Utara sejak tahun 1980. 

Kecelakaan saat menjadi kuli di Pelabuhan Tanjung Priok tahun 1976, tidak membuat Kakek Wadi menyerah menghidupi istri dan kelima anaknya. Selalu berusaha dan tidak mengeluh merupakan prinsip yang selalu dipegang teguh oleh kakek kelahiran 1946 ini. 

Dengan dibantu istrinya, Mak Atem (64), Frustasi bagaimana cara untuk menyambung hidup menjadi awal mula Kakek Wadi menekuni membuat miniatur kapal pinisi. Saat itu pada tahun 1980, Kakek Wadi pulang ke rumahnya di Koja, Jakarta Utara usai 4 tahun tinggal di Yayasan Chises, Pondok Labu, Fatmawati, Jakarta Selatan. Di Yayasan Chises, ia membuat tongkat dan rumah boneka dengan rekan-rekannya penyandang disabilitas

Kakek Wadi setiap hari tidak kenal lelah membuat miniatur kapal Pinisi sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Kurang lebih selama sebulan, ia dapat membuat delapan kapal Pinisi berukuran kecil dan besar. 
Miniatur kapal Pinisi besar yang terbuat dari bambu ini berukuran kurang lebih 85cm x 30cm. Sedangkan yang ukuran kecil sekitar 65cm x 30cm. 

“Kalau sudah jadi 8 kapal. Bapak berkeliling untuk jualan di dekat Kecamatan Koja. Berangkat kerja pukul 09.00 WIB dan pulang sebelum pukul 18.00 WIB,” 

ujar Kakek Wadi di kontrakannya jalan Rawa Binangun 1, Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara. 
Sukardi kakek pengrajin kapal Pinisi yang tak kenal menyerah
Gambar dari Detik Com
Kembali ke rumahnya, kakek asal Indramayu ini, sempat membuka warung dan berjualan air keliling menggunakan gerobak. Namun, diantara kedua pekerjaan tersebut tidak ada yang bertahan lama lantaran ia mengalami kerugian. Alhasil Kakek Wadi merasa bingung apa yang harus dikerjakan. Selang beberapa hari kemudian, di daerah Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara, Kakek Wadi melihat penjual miniatur kapal keliling dan kemudian membelinya satu.
Harga satu miniatur kapal pinisi berukuran besar dijualnya dengan harga Rp 200 ribu, sedangkan yang kecil dijual Rp 150 ribu. Rumit dan membutuhkan ketelitian merupakan salah satu cara membuat miniatur kapal pinisi
Di tengah keterbatasan fisik yang dideritanya saat kecelakaan 39 tahun silam, Sukardi atau akrab disapa Kakek Wadi terus menekuni membuat miniatur kapal pinisi dari tahun 1980 sampai saat ini. Kakek yang memiliki 16 cucu dan 3 cicit ini mengaku selama ini saat berjualan tidak pernah ada yang mengganggunya. 
Kakek Sukardi berjualan dari atas kursi roda yang dia pacu sendiri. Meski jalanan penuh lubang dan tanjakan, selalu saja ada yang menolongnya. 

“Alhamdulillah di jalan banyak yang menolong. Jadi kita lebih baik berbuat baik pada orang aja, pasti kebaikan kita akan dibalas,” 

ucapnya dengan penuh semangat. Lanjutnya, Kakek Wadi mengaku tidak sedih meski kelima anaknya tidak ada yang mengikuti jejak-nya sebagai pembuat miniatur kapal pinisi. Ia hanya menyesalkan kedepan tidak ada lagi penjual kapal pinisi di wilayah Koja

“Anak nggak ada yang bisa bikin (miniatur kapal pinisi). Setiap diminta ikut kerja kayak bapak pasti jawabanya masa mau ikutin orangtua”. 

Dengan bermodalkan menggunakan bahan puluhan bambu muda sepanjang sekitar 40 cm, Kakek Wadi setiap harinya menekuni membuat miniatur kapal pinisi seorang diri dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Dalam seminggu 2 miniatur kapal pinisi dibuatnya.
Semoga artikel ini dapat membantu dan bermanfaat bagi anda tentang perjuangan seorang kakek yang tidak mengenal batasan dalam hidupnya meski kita tahu bapak ini memiliki suatu keterbatasan tapi beliau tetap berjuang mencari nafkah dengan halal tanpa meminta-minta maupun mengeluh.
Salam GENUS (Generasi Penerus)

Loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.