Sejarah Mengenai Tragedi Tanjung Priok Berdarah 1984

Diposting pada 991 views

Tragedi Tanjung Priok pada tahun 1984 adalah salah satu pelanggaran HAM berat yang telah terjadi di Indonesia.

Peristiwa yang melibatkan tentara dan umat Islam ini telah menyebabkan ratusan orang meninggal terutama dari pihak muslimin. Semua itu berawal dari kerusuhan yang terjadi di dalam musholla.

Saat itu hari Senin, tanggal 10 September 1984. Seorang anggota ABRI bernama Sersan Satu Hermanu yang diketahui beragama kristen katholik mendatangi musholla As-Sa’adah. Tujuannya untuk menyita spanduk yang dianggapnya berbau SARA. Namun, tindakan Sersan ini sangat menyinggung perasaan para umat Islam.

Sejarah Mengenai Tragedi Tanjung Priok Berdarah 1984
Sejarah Mengenai Tragedi Tanjung Priok Berdarah 1984

Tragedi Tanjung Priok Berdarah 1984

Sersan Harmanu

Tidak ada sopan santun yang ia tunjukkan. Sersan Harmanu masuk ke musholla tanpa melepas sepatu, lalu menyiram dinding musholla menggunakan air got serta menginjak-injak Al-Qur’an.

Akibat kejadian ini, warga marah besar. Motor Harmanu pun dibakar. Akibatnya, empat anggota pengurus musholla di tangkap Kodim. Usaha pembebasan dilakukan oleh para ulama melalui jalur pendekatan dan musyawarah.

Namun hal ini rupanya tidak dihiraukan oleh pihak aparat. Mereka malah memanaskan suasana dengan mempertunjukkan salah satu tawanan mereka dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Mubaligh Abd. Qodir Djaelani

Akhirnya, pada Rabu malam tanggal 12 September 1984, Mubaligh Abd. Qodir Djaelani menyatakan untuk menentang azas tunggal Pancasila. Tabligh akbar diadakan di Jalan Sindang.

Banyak orang berkumpul dengan penuh semangat. Khotbah dari Syarifin Maloko, Amir Biki, dan Yayan Hendrayana makin membakar semangat para muslim yang hadir. Mereka meneriakkan tuntutan agar aparat segera membebaskan empat orang yang sedang ditahan.

Amir Biki berkata saat khotbah ‘saya serukan kepada kodim, tolong bebaskan empat muslim yang sedang ditahan itu sebelum pukul 11 malam. Jika tidak, saya khawatir akan terjadi banjir darah di Tanjung Priok ini!’ Setelah itu gantian Ustadz Yayan berkata pada jama’ah ‘Man anshori Ilallah!?. Siapa yang sanggup menolong agama Allah!’ jama’ah pun menjawab bahwa mereka siap menolong agama Allah

Sampai pukul 23.00 tidak ada respon dari pihak kodim. Mereka malah mengirimkan tank-tank ke daerah priok. Akhirnya lewat pukul 11 para jama’ah pun mulai bergerak menuju markas kodim. Sebagian besar hanya berbekal nama Allah dan sebuah Al-Qur’an, meskipun ada juga yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Amir Biki pun berpesan “yang merusak bukanlah teman kita”.

Akhirnya di Jalan Yos Sudarso pasukan tentara dan para masyarakat berpapasan. Awalnya tidak ada tindakan saling menyerang disini. Bahkan para muslimin hanya duduk seraya mengumandangkan takbir. Tiba-tiba seruan mundur dari tentara terdengar. Masyarakat pun mundur beberapa langkah.

Celakanya setelah beberapa saat mundur mereka malah ditembaki. Suara senapan mulai ramai terdengar. Peluru-peluru menghujani para kaum muslimin yang ada di tempat kejadian saat itu. Ironisnya tidak ada polisi sama sekali disini (dikemudian hari ternyata diketahui polisi tidak diperbolehkan keluar oleh para tentara).

Satu demi satu muslimin terjatuh dengan darah yang mengalir deras. Tak lama kemudian konvoi truk militer datang dari arah pelabuhan. Seperti tak memiliki hati, mereka melindas orang-orang yang tiarap di jalanan. Dari atas truk, para tentara mulai menembak secara acak ke berbagai arah.

Jend. L.B Moerdani

Bahkan truk-truk ini masuk ke perkampungan dengan terus melepaskan tembakan membabi buta. Suasana saat itupun menjadi sangat mencekam apalagi dengan aliran listrik yang sengaja diputus sebelumnya.

Pemerintah mendapatkan laporan resmi dari Panglima ABRI, Jend. L.B Moerdani. Dalam laporan itu disebutkan bahwa korban meninggal sebanyak 18 orang dan 13 orang orang lainnya luka-luka.

Namun, kenyataannya dari hasil pencarian fakta, ternyata sekitar 400 orang diperkirakan tewas, ini belum termasuk yang luka-luka dan cacat.

Sejak hari itu sampai dua tahun setelahnya suasana Tanjung Priok tetap mencekam. Mereka yang menanyakan perihal kejadian atau keluarganya yang menjadi korban akan berurusan dengan aparat.

Sebenarnya, jauh-jauh hari sebelum kejadian suasana panas sudah dirasakan oleh para ulama. Mereka beranggapan bahwa suasana itu sengaja direkayasa oleh para oknum-oknum pemerintahan yang memusuhi Islam. Apalagi panglima ABRI saat itu seorang katholik bernama L.B Moerdani yang sangat dikenal permusuhannya terhadap Islam.

Suasana rekayasa juga dirasakan oleh para ulama di luar Tanjung Priok. Di beberapa tempat di Jakarta, sensor bagi muslim sangat ketat. Namun entah mengapa, di Tanjung Priok yang notabene berbasis Islam malah bebas berpendapat mengkritik pemerintah dan menentang azas tunggal Pancasila.

Rekayasa dan provokasi itu sebenarnya sudah dimulai dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya seperti pembangunan bioskop di seberang Masjid yang banyak memutar film-film yang tidak sesuai syariat Islam.

Sebenarnya para tokoh senior seperti M. Natshir sudah menghimbau para ulama untuk tidak ke Priok agar tidak masuk perangkap.

Namun sayangnya himbauan ini tidak sampai pada para mubaligh Priok. Mereka baru mendengar ketika sudah di dalam penjara. Rekayasa dan kejadian ini tak lain tujuannya adalah untuk memojokkan umat Islam di Indonesia. Tragedi Tanjung Priok 1984

Loading...
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.